English EN Indonesian ID
English EN Indonesian ID
Tren NFT disebut telat ramai di Indonesia

Tren NFT disebut telat ramai di Indonesia

KOMPAS.com – Non Fungible Token (NFT) akhir-akhir ini menjadi topik hangat di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh sosok Ghozali yang kaya mendadak, setelah menjual foto selfie (swafoto) yang diambil setiap hari selama lima tahun, sebagai aset NFT.

Pria bernama lengkap Sultan Gustaf Al Ghozali tersebut awalnya iseng menjual foto selfie-nya di marketplace OpenSea.

Sejauh ini Ghozali memiliki 933 aset NFT yang ditawarkan di marketplace OpenSea. Aset tersebut adalah koleksi foto selfie Ghozali yang diambil setiap hari dari tahun 2017 hingga 2021.

Ide iseng Ghozali itu berbuah keuntungan hingga miliaran rupiah. Salah satu foto Ghozali ada yang terjual hingga Rp 1,5 miliar.

Saat ini, aset NFT termahal Ghozali adalah “Ghozali_Ghozalu #528” yang dihargai 66.346 ETH atau setara Rp 3,1 triliun.

Terjualnya NFT Ghozali hingga miliaran rupiah bukan tanpa sebab. CEO DeBio Network sekaligus Co-Founder Asosiasi Blockchain Indonesia, Pandu Sastrowardoyo menyebutkan, NFT Ghozali memiliki nilai unik, karena berswafoto selama bertahun-tahun.

Ghozali juga disebut Pandu, menjadi pionir dalam aktivitas yang unik tersebut.
Tren NFT terbaru

Terlambat

Meski sempat viral karena Ghozali, namun tren NFT di Indonesia disebut Pandu cukup terlambat dibanding negara lainnya. Menurutnya, NFT sudah viral di kalangan penggiat kripto sejak 2019. NFT bahkan menjadi hal mainstream di seluruh dunia sejak awal 2021.

“Ghozali itu memang pertama di Indonesia, tetapi Indonesia telatnya sudah bertahun-tahun. Di seluruh dunia, NFT sudah viral secara mainstream dari awal 2021 dan viral di kalangan kripto dari 2019,” kata Pandu dihubungi KompasTekno.

Meski terlambat, Pandu mengajak perusahaan di Indonesia agar bergegas mengimplementasikan NFT sebagaimana Adidas, Nike hingga Louis Vuitton.

“Kalau perusahaan Indonesia nggak cepat ikut implementasi NFT, akan tertinggal bertahun-tahun. Dari Adidas sampai Nike sampai Jay Chou sudah masuk ke NFT,” ujarnya.

 

Tren NFT di masa depan

Pandu juga mengungkapkan tren NFT ke depan, yaitu NFT untuk Metaverse, seperti jual beli tanah virtual dan item virtual.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda.

Menurut Teguh, di dunia metaverse, NFT memiliki peran penting, dimana banyak digunakan untuk berbagai kepentingan seperti dijadikan rewards saat bermain game dengan konsep play-to-earn.

Oleh karena itu NFT dinilai akan terus berkembang, baik di kancah global maupun di Indonesia, khususnya NFT yang mendorong ekonomi kreatif dan digital.

Penilaian ini juga didukung dengan data dari Dappradar yang menyebutkan tren transaksi penjualan NFT secara global menyentuh angka 25 miliar dolar AS (sekitar Rp 358 triliun) sepanjang 2021.

“Kami percaya NFT yang menekankan pada kelangkaan dan utility atau kegunaan akan populer, karena itu bisa menambah potensi manfaat NFT dan mendorong ekonomi kreatif dan digital,” ujar Teguh.

Viralnya Ghozali juga akan turut meningkatkan literasi digital, khususnya terkait NFT, sehingga menurut Teguh bisa mendorong orang untuk terjun ke dunia NFT.

Namun demikian, NFT belum dapat dipastikan menjanjikan keuntungan atau tidak. Sebab, menurut Teguh, NFT masih terbilang baru meski peluangnya bisa dikatakan besar, dan akan terus berkembang.

Dilain sisi, cara Indonesia menyambut NFT dengan membuka Galeri seni NFT di Bali. Dimana galeri ini merupakan galeri NFT pertama di Asia Tenggara dan Bali.

 

Baca juga selengkapnya : Indonesia sambut NFT: Galeri seni NFT fisik pertama di Asia Tenggara dibuka di Bali – Art & Culture – The Jakarta Post

Galeri NFT

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram